Tiga Catur

Situasi saat ini adalah situasi terburuk yang pernah dialami negara. Bahkan mungkin lebih buruk dari saat masa penjajahan. Rakyat tak lagi bersatu. Semua orang hanya mengikuti ego-nya masing-masing. Tidak ada lagi toleransi. Semua orang berpikir bahwa merekalah yang paling benar.

Situasi yang rusak ini dimanfaatkan dan diperparah oleh para pemain politik untuk meraih kepentingan politik mereka setinggi mungkin, dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menebar berbagai provokasi dan isu-isu panas yang dapat membuat masyarakat semakin berang dan pertikaian semakin menjadi-jadi.

Masyarakat yang tak lagi bersatu, membentuk dua kubu yang saling menyerang satu sama lain. Mengumpulkan orang yang memiliki kepentingan dan tujuan yang sama dalam satu kubu. Kubu yang terbentuk di masyarakat adalah kubu langit yang identic menggunakan warna putih dan kubu bumi yang menggunakan hitam sebagi warna identitas mereka. Kedua kubu ini saling bertikai baik di dunia nyata, maupun di dunia maya. Di dunia maya, mereka tidak segan-segan menyebar isu dan berita, baik berita benar maupun berita bohong untuk menyerang kubu lawan. Di dunia nyata, mereka tidak segan-segan untuk melakukan tindak kekerasan dan menyerang satu sama lain apabila bertemu, tidak peduli teman maupun kerabat.

Suatu ketika, tersebar sebuah isu yang menyerang kubu langit. Seorang pemuda dengan rambut pendek dan mata yang sedikit mengantuk, duduk di kamarnya di depan sebuah computer lengkap dengan sambungan internet. Harris, selaku anggota kubu langit yang paling gencar melakukan penyerangan terhadap kubu lawan dan aktif mengontrol kubu sendiri, naik pitam membaca isu tersebut. Tidak terima kubunya diserang, dia membalas isu tersebut dengan menyebar berbagai berita lengkap dengan caci makinya terhadap kubu lawan. Dengan semangat yang membara, Harris menghabiskan waktu di kamarnya untuk mencari berita dan membuat berita palsu untuk menyerang kubu lawan.

Disaat sedang semangat, pintu kamar Harris dibuka. Dia mendapati seorang wanita  berkacamata dengan rambut diikat ekor kuda menampakkan mata berbinar-binar kepada adiknya, seakan menginginkan sesuatu. Harris melihat benda yang dibawa oleh Citra, kakaknya tersebut.

“Kamu nganggur kan? Mumpung kita lagi senggang, main catur yuk! Jarang-jarang kita bisa punya waktu senggang bareng gini” Ajak Citra dengan wajah semangat.  “Yah, sekali-sekali boleh lah” jawab Harris dengan nada yang sedikit pasrah.

Harris dan Citra tahu, masing-masing dari mereka adalah anggota kubu yang berlawanan. Dan masing-masing dari mereka adalah anggota yang paling aktif melakukan penyerangan terhadap kubu lawan, dan mengontrol kubu sendiri. Namun tidak seperti orang lain, mereka tetap akur dan akrab satu sama lain.

 

Disaat yang bersamaan, berita, isu, dan caci maki yang baru saja disebar oleh Harris mengobarkan amarah kubu bumi dan membuat hampir seluruh anggota kubu bumi yang tersebar di berbagai kota untuk keluar rumah dan siap berperang. Di sisi lain, kubu langit pun ikut termotivasi untuk membasmi kubu bumi yang berkeliaran di negara ini. Dengan membawa senjata seadanya, hampir semua anggota kedua kubu keluar dari tempat tinggal mereka dan mempersiapkan diri untuk tawuran.

Harris menjalankan bidak caturnya. “Aku mulai ya,  bidak tantara kecilku bakal kupakai dulu”. Citra pun membalas dengan menjalankan bidak tentaranya juga,”Oke, kalo gitu, aku juga bakal jalan”. Mereka berdua saling memakan bidak tantara masing-masing lawan, hingga hanya tersisa sedikit dari bidak catur tantara, dan hanya tinggal bidak-bidak besar saja yang masih tetap berada di belakang dan belum digunakan.

Kehilangan banyak anggota kelas bawah, masing-masing kubu memerintahkan anggota kelas atas masing-masing yang terdiri dari orang-orang yang cukup berpengaruh, baik secara politik, maupun secara strata sosial seperti para dewan dan orang-orang kaya. Orang-orang politik memanfaatkan bawahan-bawahanya untuk menyerang. Dan orang-orang kaya menyiapkan perlengkapan seperti senjata, kendaraan, dan teknologi yang dibutuhkan untuk menyerang.

Dengan situasi yang makin memburuk ini, kepolisian dan TNI tidak tinggal diam.  Kedua perangkat negara ini mulai menyusun strategi dan mempersiapkan berbagai peralatan demi melerai pertikaian kedua kubu yang tersebar di berbagai daerah, dan mengamankan masyarakat yang tidak ikut terlibat sama sekali.

Disaat jenderal TNI dan ketua polri sedang menyusun strategi, sebuah panggilan telepon tersambung dari seorang misterius. Orang ini memberi sebuah bocoran tentang arah pergerakan tawuran dari kedua kubu tersebut.

“Kedua kubu memang melakukan tawuran di berbagai sudut di berbagai daerah, namun mereka berjalan menuju arah yang sama. Yaitu pusat ibukota. Sedang yang diluar pulau, mereka bergerak menuju pusat ibukota daerah masing-masing. Semua itu dilakukan karena tawuran ini menyangkut masalah kepentingan politik masing-masing kubu. Sehingga mereka membawa kepentingan mereka di tempat, dimana praktik politik berpusat, yaitu ibukota.  Namun dengan berbagai provokasi yang dilakukan dalam jangka Panjang ini, peleraian hanya akan meredam konflik untuk sementara waktu. Sedang mereka sudah tidak dapat menerima toleransi lagi. Jika kalian benar-benar ingin menghentikan pertikaian ini, habisi mereka. Mereka sudah bukan orang yang bisa menjaga negara ini, mereka sudah bisa dianggap sebagai pemberontak. Untuk apa kalian menjaga pemberontak?” jelas penelepon misterius ini. “Atas dasar apa kami harus percaya pada perkataanmu?” tanya jenderal TNI.”Aku tidak memaksa anda untuk percaya. Itu terserah pada keputusan anda. Tetapi jika kamu lihat fakta di lapangan, anda akan melihat bahwa perkataanku ini benar adanya. Karena aku melihatnya secara langsung” jelas penelepon misterius yang langsung menutup teleponya tepat setelah selesai berbicara.

“Haha! Sekarang saatnya aku keluarkan bidak catur ketiga!” teriak Citra kegirangan. “Apa-apaan nih! Masa ada catur 2 lawan satu begini? Ini tidak adil!” protes Harris. “Tenang saja, bidak ketiga ini juga akan memakan bidak hitamku juga.” Jelas Citra.

KRIIIINGG!!!

Suara telepon genggam berdering. Masing-masing ponsel genggam milik Harris dan Citra berdering. Keduanya mengangkat telepon genggamnya masing-masing dan menghentikan permainan catur mereka sementara.

Disaat yang sama, polisi dan TNI bersiaga di tempat-tempat yang diperkirakan akan menjadi jalur utama dan tujuan utama dari kedua anggota kubu yang berperang satu sama lain. Setelah melihat jumlah anggota kedua kubu yang masih terbilang banyak dibanding jumlah anggota TNI dan polisi, keduanya meminta keputusan dari atasan.

“Habisi mereka. Saya sendiri benci keputusan ini, namun tidak ada pilihan lain. Jika kita berusaha melerai mereka, semua akan sia-sia. Karena memang otak mereka sudah dicuci dengan provokasi dan fanatisme kedua kubu. Sehingga konflik yang sama akan terulang kembali Ditambah lagi, akan muncul korban dari pihak polisi dan TNI. Itu adalah sebuah kehilangan yang sangat besar, mengingat jumlah kita yang jauh lebih sedikit. Kita juga tidak bisa membiarkan kerusakan semakin meluas, dan menimbulkan korban dari pihak yang tidak terlibat sama sekali. Sebelum itu semua terjadi, habisi mereka. Maaf, tapi ini keputusan terakhir” Jelas jenderal TNI.

Namun tidak semudah itu. Anggota TNI dan polri bimbang. Karena mereka harus menghabisi orang-orang yang selama ini berusaha mereka lindungi dan mereka layani. Dengan sangat berat hati, mereka mengangkat senjata mereka. Tembakan demi tembakan mereka luncurkan. Korban dari kedua kubu banyak berjatuhan. Wajah mereka memang penuh dengan keringat, namun hati mereka penuh dengan air mata. Melakukan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang selama ini mereka pegang teguh, bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Anggota lapisan bawah kedua kubu sudah tumbang. Dengan nada yang sedikit menyedihkan, anggota polisi dan TNI yang bertugas untuk menyampaikan informasi menghubungi atasanya,”Perintah, telah selesai dilaksanakan”. Menaruh dahi mereka di meja, menutupi wajah mereka yang sangat menyedihkan, jenderal TNI dan kepala polri menjawab laporan bawahanya,”Kerja bagus”

Namun perang belum selesai. Anggota strata atas dari kedua kubu masih ada, dan masih melancarkan serangan. Masing-masing kubu memiliki anggota yang terstruktur. Mereka memiliki lambang kepala masing-masing. Dan menggunakan anggota mereka yang memiliki pengaruh paling tinggi dan kemampuan paling tinggi, kedua kubu mengeluarkan kartu as mereka untuk menghabisi kepala musuh.

“Sesuai perintah penasihat kita, kamu aku tugaskan untuk memenggal kepala dari ketua kubu musuh” perintah masing-masing kepala kubu.

“Hahahahaaha! Kumakan semua! Kumakan semua!!!!” teriak citra yang begitu semangat memakan bidak catur lain menggunakan kelompok catur ketiga. “Kakak ini kok ganas banget sih?” Tanya Harris dengan nada protes. “Biarin! Yang penting menang. Kalo kalah, berarti dia bodoh dalam mengatur strategi!” Jawab Citra dengan senyuman bangga.

Kartu as kedua kubu sudah meluncur ke tempat ketua kubu musuh berada. Namun diluar dugaan, dikarenakan kedua kubu memiliki strategi yang sama, mereka pun tahu kalau kepala mereka akan diincar. Kartu as musuh berusaha menyerang, dan kedua kepala kubu mempertahaknan diri. Hingga akhirnya, kedua kartu as musuh dan kepala kubu tumbang bersama-sama. Anggota kubu strata atas disergap dan ditahan oleh kepolisian. Anggota TNI kembali ke markas masing-masing. Perang pun usai.

“Dan pemenangnya adalah…. Kelompok catur ketiga!!!!” Teriak Citra kegirangan karena senang. “Yaaayy!!! Aku menaaanggg!!!!” Teriak Citra lagi. “Haah… Dasar kakak ini. Ada-ada aja. Seenaknya sendiri lagi” keluh Harris. “Gak pa pa kan? Yang penting seru” jawab Citra.

Tidak lama kemudian, TV yang kebetulan menyala di dekat Harris dan Citra menampilkan sebuah kilas berita yang melaporkan tentang akhir dari kericuhan antar dua kubu yang berakhir dengan banyaknya korban tewas dari kedua kubu hingga benar-benar mengurangi jumlah penduduk secara signifikan.

“Jadi, apa kakak sudah puas?” Tanya Harris. “Cukup puas lah. Dengan begini, populasi orang bodoh yang ada di negara ini bisa berkurang. Bagaimana menurutmu, tentang strategiku ini?” Tanya Citra.

“Yah, cukup pintar sih. Kakak memanfaatkan kebodohan dan kemalasan masyarakat untuk menggali informasi secara benar. Lalu menggunakan pikiran mereka yang sempit dan sifat mereka yang mudah marah dengan sedikit percikan isu SARA untuk memprovokasi mereka. Menjadi anggota paling aktif di kubu bumi, dan menyuruhku untuk menjadi anggota kubu langit. Menyerang satu sama lain. Saat kemarahan mereka memuncak, mereka memutuskan untuk berperang dan mengorbankan nyawa mereka atas sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting. Menelepon polisi sebagai penelepon misterius dan memprovokasi mereka untuk menghabisi kedua kubu. Dan menyuruh masing-masing kepala kubu untuk menghabisi kepala kubu musuh. Setelah mereka berperang, mati, dan tertangkap, kedua kubu ini pun ikut mati karena tidak lagi memiliki anggota. Ide yang sederhana, tapi efeknya sangat besar.” Jelas Harris. “Sampai sejauh ini ternyata ambisi kakak selama ini.” Ucap Harris setelahnya.

“Jelas! Aku sangat mencintai negara ini. Tidak akan kubiarkan orang-orang bodoh itu merusaknya. Mereka terlalu bodoh hingga dengan strategi sesederhana ini, mereka termakan dan mati. Akhirnya, orang-orang bodoh seperti itu bisa berkurang di negeri ini. Maka dari itu aku cukup puas. Tinggal sisa-sisa target selanjutnya, yang ada di strata atas, yang tidak ikut berperang, serta mencegah orang-orang yang tidak terlibat sama sekali untuk masuk ke dalam dunia yang busuk itu.” Jelas Citra.

Advertisements

%d bloggers like this: